Perjalanan untuk menemukan sosok dan warna gadisnya yang hilang telah membawa Kelana bersentuhan dengan sebuah organisasi teroris, organisasi mafia internasional pengedar narkotik dan obat-obatan terlarang. Ketuanya adalah warga Amerika yang mengidap paranoid skyzofrenia.
Penyamaran yang dilakukan untuk membongkar organisasi tersebut membawanya berkenalan dan jatuh cinta dengan anak sang ketua yang sangat mirip dengan gadis yang meninggalkannya. Permasalahan muncul ketika terdengar kabar bahwa gadis yang dicarinya itu pernah mempunyai saudara kembar 15 tahun silam.
Apa yang terjadi jika seseorang mendadak tahu bahwa dia bukan anggotasuatu keluarga? Padahal, sejak bayi dia sudah berada di lingkungan keluarga itu, keluarga dari suku “terasing" yang sangat dikenal dengan nama suku Orang Laut, orang perahu, atau "gipsi".
Di dalam novel inilah dikupas perjalanan hidup seorang pemuda di kepulauan mencari siapa ibu kandungnya yang sebenarnya, dengan segala perjuangan hidup serba menantang, juga dengan latar belakang budaya setempat, seperti lagu-lagu tarian zapin, joget mantang, dan teater Mak Yong.
Wianta dikenal sebagai salah satu maestro seni rupa yang telah melahirkan puisi. Karyanya menentang arus puisi konvensional yang ada selama ini. Pembahasan bahasa estetika yang dilakukan tak memedulikan apakah dirinya tercatat di peta perpuisian di tanah air atau tidak, karena bagi Wianta menulis puisi disembarang tempat dengan memakai berbagai media adalah bagian dari 'zikir' demi identitas dan konsistensinya dalam bidang seni rupa termasuk puisi rupa tadi.